Site Loader

Kegawatdaruratandapat terjadidimana saja, kapan saja dan menimpa seseorang atau sekelompok orang. Kegawatdaruratandapat berupa serangan penyakit secara mendadak, kecelakaan atau bencana alam.

Keadaan seperti itu membutuhkan pertolongan segera berupa pertolongan pertamasampai pertolongan lanjut dengan cara yang benar dan tepat di rumah sakit.Tindakan pertolongan tersebut bertujuan menyelamatkan jiwapenderita, mencegah dan membatasi terjadinya kecacatan serta meringankan penderitaan (Purwadianto & Sampurna, 2013).Menurut WHO (2017a) penyakitjantung iskemik, stroke, penyakit paru obstruktif kronik dan infeksipernapasan bawah merupakan pembunuh  tertinggi didunia selama dekadeterakhir. Penyakit kronis menyebabkan meningkatnya jumlah kematian di seluruhdunia. Angka kematian akibat penyakit diabetes meningkat dari 1,0 juta (1,8%)kematian pada tahun 2000 menjadi 1,6 juta (2,8%) kematian pada tahun 2015.Kematian akibat demensia meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2000 dan2015, menjadikannya 7 penyebab utama global kematian pada tahun 2015.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

5 jutaorang setiap tahun meninggal akibat cedera. Kecelakaan lalu lintas menyumbang 3700kematian setiap hari pada tahun 2015.Berdasarkanpernyataan dari Dr Renu Garg, Penasihat Regional (Pakar) Penyakit TidakMenular, WHO SEARO dalam health.

detik.com (2012) menyebutkan bahwa PenyakitTidak Menular (PTM) merupakan penyebab kematian paling banyak di Asia Tenggara.PTM tersebut adalah penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung, stroke,diabetes tipe 2, kanker dan gangguan pernapasan kronis yang bergantung terhadap4 faktor risiko seperti kebiasaan merokok, pola makan yang tidak sehat,kurangnya olahraga dan konsumsi alkohol. Jumlah kematian yang disebabkan olehpenyakit tidak menular adalah sebanyak 55 % atau sekitar 7,9 juta kasus pertahunnya di Asia Tenggara, sedangkan kematian akibat wabah penyakit menularseperti demam berdarah dan sebagainya sebanyak 35 persen dan 10,7 persendisebabkan karena kecelakaan. Pada tahun 2015, penyakit jantung koroner menjadipenyumbang kematian tertinggi di Asia tenggara pada tahun 2015 yaitu sebesar104 kasus per 100.000 populasi.

Angka kematian cidera kecelakaan lalu lintasmenduduki peringkat ke-10 dengan jumlah kematian sebesar 20 kasus per 100.000populasi (WHO, 2017b).Berdasarkanlaporan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013, prevalensipenyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke meningkat seiring bertambahnyaumur. Prevalensistroke di Indonesia sebanyak 57,9 % penyakitstroke telah terdiagnosis oleh nakes. Terdapat peningkatan angka prevalensicedera  pada tahun 2007 sebesar 7,5%menjadi 8,3 % pada tahun 2013. Secara nasional prevalensi  sebesar 8,2%, dengan prevalensi tertinggiditemukan di Sulawesi Selatan (12,8%) dan terendah di Jambi (4,5%). Penyebabcedera terbanyak yaitu jatuh sebesar 40,9% dan kecelakaan sepeda motor sebesar40,6% dengan proporsi jatuh tertinggi di Nusa Tenggara Timur (55,5%) danterendah di Bengkulu (26,6%) (Badan Penelitian dan Pengembangan KesehatanKementerian Kesehatan RI, 2013).

Pada tahun 2030 diprediksi akanterjadi perpindahan penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Berdasarkandata dari WHO (2010), penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung,stroke, kanker, diabetes melitus, cedera dan penyakit paru obstruktif kronikserta penyakit kronik lainnya merupakan penyebab kematian di seluruh duniasebesar 63% dengan membunuh 36 juta jiwa per tahun (WHO, 2010). Di Indonesia,penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan yang penting dengan angkamorbiditas dan mortalitas yang semakin meningkat secara bersamaan. Hal tersebutberdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa dan menimbulkankecacatan termasuk kecacatan permanen. Jumlah kasus baru PTM yang dilaporkansecara keseluruhan pada tahun 2015  sebesar 603.840  kasus dengan jumlah kasus tertinggi yaitu hipertensisebesar 57,87%, diikuti DM sebesar 18,33%, Kanker sebesar 11,50%, jantungsebesar 3,91%, dan stroke sebesar 2,87% (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2015).Sesuaidengan ketentuan pasal 26 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2016 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat.

Layanankegawatdaruratan 119 merupakan terobosan baru Kementerian Kesehatan akibat tingginya kasus kegawatdaruratan. Masyarakatdapat mengakses layanan kegawatdaruratan medis 119 secara luas dan gratis  melalui telepon seluler maupun telepon rumah.Peluncuran Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) sebagai salahsatu upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik guna mewujudkanmasyarakat Indonesia yang sehat.

Hal tersebut dalam rangka mewujudkan agenda kelima Nawa Cita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Layanan 119merupakan kolaborasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam halini adanya integrasi layanan antara Pusat Komando Nasional atau NationalCommand Center (NCC) yang berada di Kantor Kementerian Kesehatan Jakartadengan Public Safety Center (PSC) yang berada di tiap Kabupaten/Kota (Komunikasi danPelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, 2016).Layanan kegawatdaruratan medis 119 yang merupakan layanankolaborasi nasional antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah masuk sebagaisalah satu TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017 dari empat inovasiKementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Masyarakat kesulitan memperolehlayanan emergensi ketika dalam kondisi gawat darurat. Beberapa manfaat adanyalayanan emergensi medis 119 antara lain(1) masyarakatsemakin dekat dengan  akses layanan emergensi yang bisadiakses selama 24 jam sehari secara terus menerus, (2) menggunakan kodeakes 119  yang terpadu secara nasional, mudahdi akses dan gratis, (3) menggunakan pendekatan Public SafetyCenter (PSC) 119 yang daapat memberikan layanan call center  dan memberikan layanan emergensi langsung ke pasien/korban, dan (4)  pola pembiayaan bersumber dari pemerintah dan atau CSR(Hukormas Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2017mengutip pernyataan dr. Bambang Wibowo).

Layanan emergensi medis 119 dapat memberikan pertolongan pertamapada kasus kegawatdaruratan dan mempercepat waktu penanganan atau respon timepasien dengan kondisi gawat darurat (Hukormas Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2017mengutip pernyataan dr. Untung Suseno ).Sesuaidengan instruksiPresiden No.4 Tahun 2013 tentang  tentang program dekade aksikeselamatan jalan, menyatakan seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia harus membentuk PSC sebagai pusatkoordinasi layanan kegawatdaruratan di suatu daerah. Pada 1 Juli 2016 layanan119 mulai dapat difungsikan di 27 lokasi/titik di Indonesia.

PSC bekerjasamadengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dengan lokasi kejadian untukmobilisasi ataupun merujuk pasien guna mendapatkan penanganan gawat daruratsesuai dengan kondisi pasien. Pelaksanaan PSC dapat dilaksankanan secarabersama-sama dengan unit teknis lainnya di luar bidang kesehatan sepertikepolisian dan pemadam kebakaran tergantung kekhususan dan kebutuhan daerah. Sesuai peraturanGubernur Jawa Tengah Nomor 15 Tahun 2017 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu(SPGDT) pasal 4 ayat (3) menyebutkan bahwa dalam penyelenggaraan SPGDT diProvinsi Jawa Tengah maka dibentuk PSC melalui call center 119 di setiap Kabupaten/Kota di daerah. Padakamis, 1 Agustus 2016 pemerintah Kabupaten Batang telah meluncurkan ProgramAplikasi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang dapatdigunakan melalui smartphone berbasisandroid disebut dengan Si Slamet untuk mempermudah pelayanan dalam kondisidarurat kepada masyarakat. Belasan mobil ambulans dan sepeda motor telahdisiapkan oleh pemerintah Kabupaten Batang untuk memberikan pelayanan daruratkepada masyarakat. Kendaraan sepeda motor digunakan untuk wilayah yang tidak bisa dilalui oleh mobil ambulanssehingga pelayanan darurat pada masyarakat tidak terganggu dan berjalan lancar.Sebagai bentuk sosialisasi dan memberi pemahaman terkait aplikasi sistem penanggulangan gawat darurat terpadu kepada masyarakat, pemeintahKabupaten Batang telah mengumpulkan kepala desa dan memasang spanduk (Liputan6.com, 2016 mengutip pernyataan Bupati Batang).

Hasilpeneliatian yang dilakukan oleh Mustafa (2016) menyebutkan bahwa dalamimplementasi program PSC di Kabupaten Tulungagung pelaksanaan kerjasama telahdilaksanakan oleh RSUD Dr.ISkak Polrs, dan BPBD sebagai stakeholder utama. Beberapa faktor hambatan yang muncul dalampelaksanaan kerjasama tersebut diantaranya faktor budaya top down terkait denganpenyediaan sumber daya dan penyusunan birokrasi, faktor institusi terkaitdengan disposisi, dan faktor politik terkait dengan penyediaan sumber daya danstruktur penyusunan birokrasi.

Pelaksanaan integrasi antar stakeholder telah diatur dalam SOP yang harus dilaksanakan bersamasebagai panduan penanganan kegawatdaruratan. Para stakeholder yang terlibat sudah diatur dalam peraturan bupatisetempat. Akan tetapi kerjasama dalam pengkomunikasian program kepadamasyarakat dan penyedia sumber daya untuk mendukun pelakanaan program belumdiatur secara deraildan terstruktur.  Penelitian internasional manajemen penanganan gawatdarurat Penguatan pelayanan kesehatanmerupakan salah satu dari tiga pilar utama Program Indonesia Sehat. Strategidalam penguatan pelayanan kesehatan di antaranya yaitu strategi peningkatanakses pelayanan kesehatan dengan optimalisasikan sistem rujukan dan peningkatanmutu pelayanan kesehatan.

Salah satu cara yang dilakukan kementerian kesehatanyaitu melalui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Adanyakebutuhan masyarakat akan suatu sistem penanganan kegawatdaruratan yang standardan terpadu di Indonesia, dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menujufasilitas pelayanan kesehatan, selama menerima bantuan di fasilitas pelayanankesehatan sampai paska penanganan melatarbelakangi lahirnya sistempenanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) tersebut. Pelaksanaan SPGDTmelibatkan berbagai unsur seperti tenaga kesehatan, pelayanan ambulans, sistemkomunikasi dan masyarakat umum. Terwujudya SPGDT diperlukan pembentukan suatusistem yang terintegrasi, mulai dari pra-Fasilitas Pelayanan Kesehatan, intraFasilitas Pelayanan Kesehatan dan antar Fasilitas Pelayanan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).Pemerintah Kabupaten/Kota harus membangun Pusat PelayananKeselamatan Terpadu/Public Safety Center (PSC) sebagai ujung tombakpelayanan respon cepat untuk menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yangberhubungan dengan kegawatdaruratan.

Dengan Public Safety Center (PSC) 119diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan informasi tentang rumah sakit mana yang paling siap dapatmemberikan layanan kedaruratan, petunjuk untuk pertolongan pertama danmenggerakan ambulan rumah sakit untuk penjemputan pasien hanya dengan mengakseskode telepon 119. Bagaimana PSC 119 sebagai layanan cepat tanggap darurat kesehatan  mampu menekan angka kematian akibat kondisigawat daurat bagi korban sebelum ditangani oleh rumah sakit,hal inilah yang menjadi tugas Dinas Kesehatan agar PSC 119 menjadi efektifsebagai suatu suatu layanan kegawatdaruratan.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eric!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out