Site Loader
Rock Street, San Francisco

DiahEka Octaviani1Suparno2UnversitasNegeri Malang,Jalan Semarang No 5 MalangE-mail: [email protected]

id   [email protected]  ABSTRACT: This research aims to describe the formation of verbs in the short story text of students’ work. The approach used in this research is qualitative, while the type of this research is descriptive research.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

The results of the study show that there are forty-seven formations of verbs with affixation, six verb formations with reduplication, and four compounded verb formations. Keywords: verb formation, short story text ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untukmendeskripsikan bentukan verba dalam teks cerpen karya siswa. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah kualitatif,sedangkan jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa  terdapat empat puluh tujuh bentukan verbadengan afiksasi, enam bentukan verba dengan reduplikasi, dan empat bentukanverba dengan pemajemukan.  Kata Kunci: bentukan verba, teks cerpen Kata merupakan salah satu unsur penting dalam penggunaan bahasa, salahsatunya pada proses pembuatan karya tulis. Kata dalam ragam bahasa mengalamiberbagai bentukan sehingga menghasilkan kelas kata yang berbeda-beda. Adabanyak ragam kelas kata dalam bahasa Indonesia, salah satunya kata kerja. Katakerja berdasarkan bentukannya terbagi atas verba dasar bebas yang dapat berdirisendiri tanpa imbuhan dan verba turunan yang dibentuk lewat proses morfologis(Arifin dan Junaiyah, 2009:102).

Katakerja yang mengalami proses morfologis mempunyai potensi memperkayaperbendaharaan kata bahasa Indonesia. Pembentukan kata kerja yang dibentukmelalui proses morfologis mengalami perubahan yang berbeda-beda sesuai denganmorfem yang mengikuti. Proses morfologi terdiri atas afiksasi,reduplikasi, dan pemajemukan (Mulyono, 2013:77).

   1.       Diah Eka Octaviani adalah mahasiswa program studiPendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Negeri Malang2.      Suparno adalahdosen di jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Selain itu, beliausebagai dosen pembimbing   Teks cerpen adalah karya fiksi yang berbentuk prosa naratif fiktiftentang kehidupan manusia, terkadang peristiwa-peristiwa yang terjadi  hanyalah sebuah rekayasa oleh pengarang (Sumardjo,2004:18). Teks cerpen memiliki karakteristik cerita yang tidak monoton serta disajikansecara padat dan jelas.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Tarigan(2015:108) menjelaskan ciri utama cerpen adalah singkat, padu, dan intensif. Teks cerpen berkaitan erat dengan bahasa sebagaimediumnya. Peran bahasa dalam teks cerpen sangat penting bagi pengarang untuk mengungkapkanide-ide kreatif. Menulis teks cerpen memerlukan keterampilan dalam merangkaicerita, hal tersebut dikarenakan cerita dalam teks cerpen menentukankemenarikan pembaca.

Bentukan kata kerja menjadi perbedaan yang menarik dalampenulisan teks cerpen, dikarenakan setiap siswa memiliki cara penulisanbentukan verba yang berbeda-beda. Siswa yang memiliki banyak perbendaharaankata, gaya penulisannya akan berbeda dengan siswa yang perbendaharaan kataterbatas. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan adanya cerpen yangmemiliki ragam bentukan kata kerja yang berbeda antara satu teks cerpen denganteks cerpen lain.

Penelitian lain sejenispernah dilakukan oleh Dian Risdiawati (2014) berjudul “Gaya Bahasa dalam CerpenKarya Siswa Kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BBS) Malang Tahun Ajaran2013/2014”. Persamaan penelitian ini terletak pada objek yang ditelitiyaitu, teks cerpen karya siswa. Perbedaan penelitian ini dengan penelitiansebelumnya terletak pada fokus penelitian, yaitu gaya bahasa dilihat dari segipenggunaan, fungsi, dan jenis dalam teks cerita pendek.

 Penelitian mengenai bentukan verba ini dilakukan untuk melihatkeragaman siswa dalam menulis teks cerpen. Keragaman tulisan siswa dapatdiketahui dari segi penggunaan bentukan verba yang bervariasi. Penelitian inidilakukan untuk mendeskripsikan bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpenkarya siswa.

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana pengetahuan siswaterkait bentukan kata dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.     METODE  Penilitian ini menggunakan pendekatankualitatif, dikarenakan datapenelitian diambil dari sumber data yang tidak berbentuk angka, yaitu bentukanverba dalam teks cerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang.Desain penelitian yangdigunakan adalah penelitian deskriptif. Hal tersebut karena peneliti mendeskripsikanbentukan verba dengan afiksasi, reduplikasi, danpemajemukan yang terdapat di dalam teks cerpen karya siswa.

Kehadiran penelitidalam penelitian ini sangat penting, karena peneliti berperan sebagai pengamat dan menjadi instrumenutama untuk mengumpulkan data. Lokasi penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Malang yang terletak di Jalan Veteran nomor 17 Malang.Data yang digunakan adalah data verbal berupapenggalan-penggalan kalimat atau gugus kalimat yang menggambarkan bentukanverba dengan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Data tersebutkemudian dianalisis berdasarkan pedoman analisis data, sehingga diperoleh datayang sesuai dengan fokus penelitian. Sumber data padapenelitian ini adalah siswa kelasXI UPW 2 dan XI KPR 1 SMK Negeri 2 Malang. Teks cerpen yang menjadi sumber data secara keseluruan berjumlah 27.Sumber data dipilih dengan memperhatikan kriteria, yaitu terdapat identitassiswa, menggunakan tulisan yang mudah dibaca, dan teks cerpen yang ditulisminimal 2 lembar.Teknik pengumpulandata dalam penelitian ini adalah penugasan menulis teks cerpen.

Penugasan menulis teks cerpen dilengkapidengan instrumen berupa panduan menulis.Pengumpulan data inidilakukan dengan cara membagikanlembar kertas folio dan panduan menulis teks cerpen, memberikan penjelasan terkait penulisan teks cerpen, memberikesempatan siswa menulis, mengumpulkan tugas menulis siswa, membaca teks cerpensecara intensif untuk menemukan data bentukan verba sesuai dengan fokuspenelitian, dan memasukkan data bentukan verba pada tabel pengumpulan data. Analisisdata yang digunakan adalah analisis komponensial untukmenganalisis makna yang terdapat dalam kalimat.

Kegiatan analisis data dilakukan dengan tigatahap. Pertama mereduksi data, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputiidentifikasi data, klasifikasi data, dan kodifikasi data. Identifikasi padapenelitian ini berupa penggunaan bentuk verba dalam teks cerpen karya siswa,selanjutnya data yang diperoleh dari identifikasi kemudian diklasifikasi sesuaidengan fokus penelitian. Pengklasifikasian data berpedoman pada panduan bentukverba. Hasil analisis bentuk verba dalam teks cerpen karya siswa selanjutnyadikodifikasi dengan pemberian kode sesuai dengan klasifikasi data. Kedua, penyajian data pada tahap inidata yang telah direduksi kemudian data dianalisis dengan melihat panduananalisis data, dan ketiga,penyimpulan. Pada tahap penyimpulkan dilakukan bila peneliti sudah menemukandan melakukan instruksi pertama dan kedua, yaitu reduksi data dan penyajiandata.

Kesimpulan tersebut ditarik sesuai dengan fokus penelitian berupabentukan verba dengan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.  Instrumen penelitianini terdiri atas panduananalisis yang berisi petunjuk menganalisis data afiksasi, reduplikasi, danpemajemukan yang tediri dari analisis bentukan kata, proses morfofonemik,perpidahan kategori, dan makna kata bentukan verba. Panduan tersebut dilengkapiformat penampungan data berupa tabel analisis yang terdiri atas empat kolom,yaitu nomor, kode, aspek, deskripsi. Pengecekan keabsahantemuan dilakukan untuk menemukan hasil penelitian yang akurat.

Cara untuk ujikeabsahan temuan dilakukan dengan tiga langkah yang ditempuh peneliti. Pertama, perpanjang pengamatan dilakukan dengan membaca teks cerpen secaraberulang-ulang. Kedua, melalui triangulasi untuk  mengecek keabsahan data.

Teknik triangulasidilakukan dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lain secara teoritis. Tahap ketiga, kecukupan refensial, peneliti berusaha melakukan kecukupan refensialdengan membaca dan menelaah sumber-sumber data serta berbagai pustaka yangrelevan dengan masalah peneliti.Pada penelitian ini,ada tujuh tahap yang dilakukan peneliti untuk melakukan penelitian,yaitu studipendahuluan, penentuan masalah, perancangan penelitian, pengumpulan data,analisis data, rumusan hasil dan penyusunan laporan.

   HASILDAN BAHASANBentukanVerba dengan AfiksasiBerdasarkan analisis data diperoleh bentukan verba dengan afiksasi, bentukan verba dengan reduplikasi, dan bentukanverba dengan pemajemukan. Bentukanverba dengan afiksasi diperoleh empat puluh tujuh data berupa prefiks meN-, ber-, di-, ter-, serta konfiks ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, dan memper-kan. Bentukan verba dengan afiksasi  mengalami proses pembentukan kata dari bentukdasar, perpidahan kategori dari kata, proses morfofonemik, dan memiliki maknakata sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Bentukan verba denganprefiks meN- paling banyak ditemukandalam teks cerpen karya siswa, diperoleh tiga belas bentukan. Afiks merupakansatuan gramatik terikat yang diletakkan atau diimbuhkan pada bentuk dasar untukmembentuk bentuk dasar atau kata baru (Sumadi, 2012:76). Bentukan verba denganafiksasi merupakan bentukan verba yang paling banyak ditemukan dalam tekscerpen karya siswa, yaitu empat puluh tujuh data.

Putrayasa (2008:5)menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tergolong bahasabersistem aglutinasi. Sistem aglutinasi adalah sistem bahasa yang prosespembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau bentuklainnya. Pada teks cerpen karya siswa bentukan verba dengan afiksasi mengalamiproses pembentukan kata secara bertahap atau dapat dipecah-pecah menjadi satuangramatik yang lebih kecil. Contoh data sebagai berikut.   Aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah untuk Bambam, mungkin hanya aku satu-satunya yang ingat hal ini sejak dua hari lalu. Dari kalimat tersebut, pembentukan kata mempersiapkan dapat dipecah menjadi satuan gramatik yang lebihkecil, yaitu kata mempersiapkanmendapat prefiks meN- pada bentuk dasar persiapkan, kemudianbentuk dasar persiapkan mendapat afiks per-.Bentuk dasar siapkan berasal dari bentuk asal siap yang mendapat afiks -kan. Kata mempersiapkan merupakan bentukkomplek yang dapat dibagi lagi menjadi satuan gramatik lain yang lebih kecil.

Satuan gramatik yang digabungkan berupa afiks, sedangkan satuan gramatik yangmenjadi tempat menggabungkan satuan gramatik lain sehingga menjadi satuangramatik yang lebih besar disebut bentuk asal atau bentuk dasar (Sumadi,2012:12). Bentukan verba dengan afiksasi yang terdapat dalam teks cerpen karyasiswa mengalami proses morfofonemik berupa perubahan fonem dan penambahanfonem. Morfofonemik adalah perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibatpertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 2009:43). Contoh data sebagaiberikut. Tony melihat lampu-lampu di dalam toko sudah padam namum pintunya tetap terbuka. Kata kerja melihatdi atas mengalami proses morfofonemik berupa penghilangan fonem.

Penghilanganfonem /N/ pada afiks meN- terjadisebagai akibat pertemuan prefiks meN-dengan bentuk dasar berupa konsonan /l/. Fonem /N/ pada morfem afiks meN- dan peN- akan mengalami penghilangan apabila bertemu dengan bentukdasar yang berawalan dengan fonem /l/, /r/, /y/, /w/, dan /nasal/ (Muslich,2010:45). Proses pengimbuhan pada sebuah kata dasar bunyi nasal akan munculdengan perubahan dalam bentuk bunyi nasal yang homogram dengan fonem awal katadasarnya. Begitu pula, dengan pendapat (Putrayasa, 2008:11) menjelaskan prefiksmeN- berubah menjadi me- jika diikuti oleh bentuk dasar yangbermula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ny/, /n/, /r/, /y/, dan /w/. Bentukan verba berinfiks tidak ditemukan dalamteks cerpen karya siswa.

Putrayasa (2008:26) yang menyatakan bahawa dewasa ini,infiks dalam bahasa Indonesia menjadi tidak produktif. Sumadi (2012:77) menjelaskanbahwa dalam bahasa Indonesia jumlah infiks sangat terbatas. Afiksasi disertaipula dengan perubahan kelas kata dari bentuk dasarnya (Sumadi, 2012:75). Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhandapat dikelompokkan atas empat kelas, yaitu bentuk dasar yang berkelas katakerja, kata benda, kata sifat, dan kata bilangan (Mulyono, 2013:69). Senadadengan pendapat (Muslich, 2010:50) mengemukakan bentuk dasar yang bergabungdengan afiks dikelompokkan atas empat kelas, yaitu kata kerja, kata sifat, katabenda, dan kata bilangan. Bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpen karyasiswa mengalami perpindahan kategori dari kata kerja, kata benda, dan katasifat menjadi kata kerja dengan perubahan bentuk dasar.

Bentukanverba dengan afiksasi memiliki beragam makna. Ragam makna dalam bentukan verbabergantung pada afiks yang melekat pada bentuk dasar. Apabila bergabung dengan bentuk dasar yangberkelas verba afiks meN- mempunyaimakna melakukan sesuatu yang tersebut pada bentuk dasar, menjadikan seperti yangtersebut pada bentuk dasar, berbuat yang seakan-akan seperti yang tersebut padabentuk dasar, membuat sesuatu yang berkaitan dengan bentuk dasar (Sumadi,2012:83).

Bentukan Verba dengan ReduplikasiBentukan verba hasil proses reduplikasi tidakbanyak ditemukan pada teks cerpen karya siswa. Pada teks cerpen pemilihan katadibuat sedemikian menarik agar cerita tersebut banyak digemari (Yustina,2013:6). Salah satu kata yang terdapat dalam teks cerpen karya siswa, yaitukata ulang. Sumadi (2012:126-127) mengemukakan kata ulang  dibedakan atas empat macam, yaitu kata ulangutuh, kata kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, dan kata ulang berubahbunyi.

Bentuk pengulangan verba yang ditemuan dalam tekscerpen karya siswa, meliputi kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi.Pengulangan kata sebagian berupa pembubuhan prefiks meN- dan ber- pada bentukdasar maupun bentuk asal. Bentukan verba dengan reduplikasi yang terdapat dalamteks cerpen karya siswa mengalami proses morfofonemik berupa penghilanganfonem. Contoh data sebagai berikut.

Emely hanya bisa meraba-raba rumput untuk mencari barang yang selalu di bawa Reno. Kata kerja meraba-rabaterbentuk dari proses penambahan prefiks meN- pada bentuk dasar raba, selanjutnyabentuk dasar meraba mengalami proses pengulangan kata pada bentuk dasar. Kata meraba-raba mengalami perpidahankategori dari kata kerja menjadi kata kerja setelah mendapat setelah mendapatimbuhan prefiks meN- dan {R}. Kataulang meraba-raba mengalami prosesberupa penghilangan fonem. Proses penghilangan fonem /N/ pada prefiks meN- terjadi sebagai akibat pertemuanprefiks meN- dengan bentuk dasarberupa konsonan /r/.  Prefiks meN- menjadi me- jika bentuk dasar yang diletakkan diawali dengan fonem konsonan/y/, /r/, /l/, /m/, /n/, dan /ny/ (Mulyono, 2013:93). Bentukan verba denganreduplikasi yang terdapat dalam teks cerpen karya siswa mengalami pengulangankata sesuai dengan kata yang melekat pada awal kata, seperti kata bendamembentuk kata benda, pengulangan kata kerja membentuk kata kerja, danpengulangan kata sifat membentuk kata sifat pula (Suyanto dan Muslich,1985:104).

Begitu pula, dengan pendapat Soedjito dan Saryono(2014:159) menjelaskan kata ulang adalah kata jadian yang terjadi daripengulangan bentuk dasar. Kelas kata ulang sama dengan kelas kata bentukdasarnya, seperti kata ulang berkelas kata verba, maka bentuk dasar kata ulangtersebut berkelas kata verba. Kata ulang berkelas kata nomina, maka bentukdasar kata ulang tersebut juga berkelas kata nomina. Bentukan verba dengan reduplikasi memiliki maknayang berbeda-beda sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Apabilabentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka morfem ulang mempunyai beberapamakna, yaitu tindakakn yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan secaraberulang-ulang, tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan secaraberulang, serta tindakan yang dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai(Muslich, 2010:89).

Bentukan Verba dengan PemajemukanBentukan verba dengan pemajemukan ditemukan empat data dalam tekscerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang. Kaja majemuk yang ditemukandalam teks cerpen karya siswa merupakan gabungan dari bentuk bebas yangmeliputi gabungan bentuk dasar dengan bentuk dasar. Contoh data sebagai berikut. Ayah bekerja di salah satu perusahaan jual beli alat elektronik di Jakarta.

Kata jual beli merupakankata majemuk yang berasal dari bentuk jual dan beli. Pembentuk kata jual beli di antara unsur tidak bisa disisipi satuan gramatik. Hubungandi antara unsur kata majemuk sangat padu, sehingga tidak dapat disisipi satuangramatik yang lain (Sumadi, 2012:137).

Kata majemuk jual beli merupakangabungan dari bentuk bebas yang meliputi gabungan bentuk dasar dengan bentukdasar. Warida(2014:43) mengemukakan gabungan kata majemuk berupa gabungan bentuk bebasdengan bentuk bebas, bentuk bebas dengan bentuk terikat, dan bentuk terikatdengan bentuk terikat. Bentukanverba dengan pemajemukan tidak mengalami proses morfofonemik.  Kelas kata bentuk pemajemukan dalam analisisdata semua berkategori kata kerja baik kedua unsurnya maupaun satu unsurnya. Didasarkanpada kontruksi kelas katanya kata majemuk bahasa Indonesia dapatdiklasifikasikan berupa kata kerja-kata kerja, kata benda-kata benda, katasifat-kata sifat, kata benda-kata kerja, kata benda-kata sifat, kata kerja-katasifat, kata sifat-kata benda, kata kerja-kata benda, dan kata sifat-kata kerja(Mulyono, 2013:63). Bentukan verba dengan afiksasi memilikiberagam makna dan berbeda-bedasesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. PENUTUPSimpulanBerdasarkan hasil analisis data dan bahasan dapat dipaparkankesimpulan, yaitu bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpen karya siswakelas XI SMK Negeri 2 Malang sangat beragam.

Bentukan verba tersebut terdiridari bentukan verba dengan afiksasi, bentukan verba dengan reduplikasi, danbentukan verba dengan pemajemukan. Pertama,bentukan verba dengan afiksasi banyak ditemukan dalam teks cerpen karya siswakelas XI SMK Negeri 2 Malang. Bentukan verba tersebut terdiri dari prefiks meN-, ber-, di-, ter-, serta konfiks ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, dan memper-kan. Bentukan verba dengan prefiks meN- lebih dominan dalam teks cerpen karya siswa.  Bentukan verba dengan afiksasi mengalamiproses pembentukan kata secara bertahap atau dapat dipecah-pecah menjadi satuangramatik yang lebih kecil. Bentukan verba dengan afiksasi yang terdapat dalamteks cerpen karya siswa tidak hanya satu kata dalam kalimat, namun dalam tekscerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang muncul penggunaan dua bentukanverba dengan afiksasi. Bentukan verba dengan afiksasi mengalami prosesmorfofonemik berupa penambahan fonem dan perubahan fonem.

Bentukan verba denganafiksasi paling banyak ditemukan perpindahan kategori kata dari kata kerjamenjadi kata kerja setelah mendapat afiks pada bentuk dasar. Bentukan verbadengan afiksasi memiliki beragam makna. Ragam makna dalam bentukan verbabergantung pada afiks yang melekat pada bentuk dasar. Bentukan verba denganafiksasi paling banyak menggambarkan proses.  Kedua, bentukan verba dengan reduplikasi yang ditemukan dalam teks cerpenkarya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang ialah kata ulang sesungguhnya ataukata ulang asli. Kata ulang sesungguhnya atau kata ulang asli yang ditemukanmeliputi kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi. Kata ulang sebagianmengalami proses morfofonemik berupa penghilangan fonem.

Pengulangan katamengalami perpindahan kategori dari kata benda dan kata kerja menjadi katakerja setelah mendapat afiks pada bentuk dasar. Bentukan verba denganreduplikasi memiliki variasi makna yang berbeda-beda. Ketiga, Bentukan verba dengan pemajemukan yang terdapat dalam teks cerpenkarya siswa  kelas XI SMK Negeri 2 Malangtidak banyak ditemukan. Kata majemuk yang ditemukan dalam teks cerpen karyasiswa merupakan gabungan dari bentuk bebas yang meliputi gabungan bentuk dasardengan bentuk dasar. Bentukan verba dengan pemajemukan tidak mengalami prosesmorfofonemik.

Kelas kata bentuk pemajemukan semua berkategori kata kerja baikkedua unsurnya maupaun satu unsurnya. Bentukan verba dengan pemajemukanmemiliki variasi makna yang berbeda-beda. Saran Peneliti memberikan saran berdasarkan hasil penelitian bentukan verbadalam teks cerpen karya siswa  kelas XISMK Negeri 2 Malang. Saran tersebut dijelaskan sebagai berikut. Pertama, saran bagi guru Bahasa Indonesia agar memantapkan materi pembelajaranterutama mengenai bentukan verba dan menyusun latihan-latihan bahan ajar lebihbervariasi. Kedua, kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitiannya secaralebih menyeluruh seperti pembentukan verba dari ilmu sintaksis dan menelititentang bentukan verba dengan subjek lain yang masih termasuk kalanganakademik.

 DAFTARRUJUKANArifin, Z. dan Junaiyah. 2009. Morfologi (bentuk, makna, dan fungsi).Jakarta: PT. Gasindo. Mulyono, I.

2013. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi.Bandung: CV YAMA WIDYA. Muslich, Mansur. 20110.

Tata Bentukan Bahasa Indonesia (kajian kearah tata bahasa deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara. Putrayasa, I.B. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional danInfleksional). Bandung: PT Refika Aditama.

 Soedjito & Saryono, D. 2014. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang:Aditya Media Publishing. Sumadi. 2012. Morfologi BahasaIndonesia.

Malang: UM PRESS. Sumajono, J.2004. Menulis Cerpen.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  Suyanto & Muslich, M.

1985. Tatas (Tata Bahasa Bahasa Indonesia dengan SistemBelajar Tuntas). Solo: Tiga Serangkai. Warida, E. 2014.

Pedoman Kata Baku dan Tidak Baku.Bandung: Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka. Yustina, R. 2013. Seluk Beluk dan Petunjuk Menulis Cerita Pendek.

Yogyakarta:Adicipta Karya Nusantara. 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eric!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out